Sejarah dan Latar Belakang Terbentuknya Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)

Sejarah dan Latar Belakang Terbentuknya Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)

Sejarah dan Latar Belakang Terbentuknya Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) – Sebagai sebuah kawasan yang terdiri dari banyak negara dengan segala kepentingan perdagangan dan investasi, kawasan Asia Pasifik membutuhkan suatu forum kerjasama yang dapat bermanfaat bagi negara anggota. Forum kerjasama dalam bidang ekonomi ini kemudian dikenal dengan nama Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Forum kerjasama ini rutin mengadakan pertemuan setiap tahunnya dengan 21 negara anggota yang disebut sebagai Ekonomi anggota. Forum kerjasama ini juga mempunyai prinsip dan pilar yang harus dilaksanakan serta target yang menjadi wadah dari tujuan forum kerjasama tersebut. Lantas, bagaimana dengan latar belakang dan sejarah terbentuknya APEC ini?

APEC didasari pada sebuah pertemuan antara beberapa menteri negara yang diadakan di Canberra, Australia. Pada pertemuan tersebut, Perdana Menteri Australia, Robert Hawke mengemukakan idenya yaitu suatu forum kerjasama di kawasan Asia Pasifik yang dapa membantu mengembangkan perdagangan dan investasi di bidang ekonomi dari negara-negara anggotanya. Forum kerjasama tersebut yang akhirnya disebut dengan nama Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang terbentunya APEC sebagai forum kerjasama ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Salah satunya adalah dinamika proses globalisasi. Proses ini membuat setiap negara menjadi terhubung satu dengan yang lainnya. Sehingga, agar suatu negara dapat berdiri dan berkembang haruslah mengikuti perubahan tersebut. Hal itu juga berlaku bagi negara di kawasan Asia Pasifik. Oleh karena itu, diperlukan beberapa penyesuaian struktur ekonomi di negara kawasan Asia Pasifik. Perubahan tersebut meliputi liberalisasi perdagangan yang dilakukan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini mengakibatkan adanya saling ketergantungan (interpendensi) dari suatu negara ke negara yang lain.

Kondisi politik yang terjadi saat itu juga melatar belakangi terbentuknya forum kerjasama APEC. Mengapa? Saat itu, beberapa negara membentuk beberapa kelompok perdagangan yang sifatnya tertutup. Sehingga, ada banyak negara yang kehilangan pasar ekspornya. Salah satunya adalah dibentuknya North American Free Trade Area atau NAFTA. Kondisi ini memicu beberapa negara di kawasan Asia Pasifik juga membentuk suatu forum kerjasama ekonomi untuk menjaga stabilitas ekonomi di wilayah mereka. Kondisi ketegangan politik dan ekonomi antara Uni Soviet dan Eropa Timur juga mempengaruhi keadaan ekonomi di dunia. Hal ini diperparah dengan adanya kegagalan perjanjian Uruguay. Keadaan tersebut menyebabkan adanya ketidakjelasan secara ekonomi dan politis. Tentu saja hal ini membuat negara dalam risiko besar terkena krisis ekonomi. Oleh karena itu, untuk mencegah hal tersebut terjadi di kawasan Asia Pasifik, dibentuklah suatu forum kerjasama yang dapat melindungi ekonomi negara kawasan Asia Pasifik yang disebut dengan APEC.

Sejarah dan Latar Belakang Terbentuknya Asia Pasific Economic Cooperation

Saat didirikan, APEC mempunyai 12 negara anggota yang bertindak sebagai pendiri APEC yaitu Australia, Selandia Baru, Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan dan Philipina yang menjadi tempat berdirinya perusahaan agen sbobet yang merupakan perusahaan game online terbesar di dunia. Setelah itu, APEC memiliki kemajuan yang cukup pesat dalam memberikan kesetimbangan perdagangan dan investasi bagi negara anggotanya. Perkembangan ini yang menarik beberapa negara lain. Pada tahun 1991, beberapa negara bergabung dalam APEC yaitu, Cina, Hongkong, dan Taipei. Setelah itu, pada tahun 1993, Meksiko dan Papua Nugini masuk menjadi anggota APEC. Kemudian, pada tahun 1994, Chili masuk menjadi anggota baru. Pada tahun 1998, terdapat tiga negara yang menjadi anggota APEC yaitu Rusia, Peru, dan Vietnam. Hingga saat ini, terdapat 21 anggota APEC. Negara yang tergabung dalam APEC disebut dengan Ekonomi anggota.

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Kerjasama Bidang Ekonomi dari Negara Asia
Berita Bisnis Ekonomi

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Kerjasama Bidang Ekonomi dari Negara Asia

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Kerjasama Bidang Ekonomi dari Negara Asia – Pasifik – Secara geografis, kawasan Asia Pasifik meliputi beberapa wilayah seperti Asia Tenggara, Pantai Asia Tiur, Australia, dan negara yang terletak di Oceania. Beberapa negara yang ada di wilayah tersebut kemudian membentuk sebuah kerjasama ekonomi yang disebut dengan Asia Pasific Economic Cooperation atau APEC. Organisasi ini merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang ekonomi dan bersifat non politis. APEC didirikan pada tahun 1989. Organisasi ini memiliki tiga pengamat yaitu Pacific Island Forum (PIF) Secreatariat, ASEAN Secretariat, dan Pacific Economic Cooperation Council (PECC). Saat ini ada 21 negara yang menjadi bagian dari APEC yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, Singapura, Papua Nugini, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Australia, Selandia Baru, Kanada, Cili, Cina, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Peru, Amerika Serikat, dan Meksiko. Setiap anggota APEC disebut dengan “Ekonomi”. Sehingga, mereka bergabung dengan memakai entitas ekonomi bukan negara.

APEC sebagai sebuah forum kerjasama ekonomi tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dari dibentuknya APEC adalah forum kerjasama ini harus bisa mendorong dan memberikan fasiltas bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Sehingga, kesejahteraan ekonomi Asia Pasifik dapat meningkat. Dalam rangka mewujudkan tujuan utama tersebut, APEC telah menetapkan target yang disebut dengan “The Bogor Goals”. Target ini dibuat saat diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Bogor. KTT APEC ini dilaksanakan pada tahun 1994. Sebagai suatu organisasi kerjasama ekonomi yang ada di kawasan Asia Pasifik, APEC juga memiliki beberapa prinsip kerjasama yaitu Consensus, Voluntary and non-binding, Concerted unilateralism, dan differentiated time frame. Prinsip Consesnsus merupakan sebuah prinsip dimana setiap keputusan yang ada pada APEC harus disepakati dan dapat menghasilkan manfaat bagi 21 ekonomi anggota APEC. Sementara itu, prinsip Voluntary and non-binding mengandung arti bahwa setiap kesepakatan yang diambil dalam APEC harus diambil dalam keadaan sukarela. Hal ini berarti keputusan APEC tidak mengikat 21 Ekonomi Anggota. Mereka bisa memilih untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan keputusan APEC. Prinsip Conceted Unilateralism memiliki arti bahwa dalam melaksanan keputusan harus dilakukan sesuai dengan kemampuan tiap Ekonomi Anggota. Sementara itu, prinsip Differentiated Time Frame memiliki arti bahwa liberalisasi akan dilaksanakan oleh Ekonomi maju.

Forum kerjasama APEC memiliki tiga pilar yang digunakan untuk mencapai target Bogor Goals. Pilar yang pertama adalah perdagangan dan investasi yang lebih terbuka. Pilar pertama ini diterapkan dalam rangka untuk menghilangkan hambatan baik tairf maupun non-tarif bagi perkembangan perdagangan dan investasi. Selain itu, pilar ini dapat membuka pasar ekspor bagi produk yang dihasilkan oleh Indonesia. Pilar pertama ini juga diterapkan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar hidup ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, pilar yang kedua adalah fasilitas perdagangan dan investasi. Pilar ini berfokus pada pengurangan biaya transaksi, kemudahan administasi pelabuhan, peningkatan akses terhadap informasi perdagangan, dan penyelarasan kebijakan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan serta peningkatan dalam efisiensi ekonomi. Pilar yang ketiga adalah adanya kerjasama ekonomi dan teknik atau yang lebih sering disebut dengan ECOTECH. Pilar ketiga ini memungkinkan adanya kerjasama dalam bentuk pelatihan yang memungkinkan setiap Ekonomi anggota dapat mengembangkan potensi dan kapasitas ekonominya. Sehingga, setiap Ekonomi anggota dapat menghadapi berbagai isu dan tantangan yang ada pada bidang ekonomi.

Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), Kerjasama Bidang Ekonomi dari Negara Asia – Pasifik – Secara geografis, kawasan Asia Pasifik meliputi beberapa wilayah seperti Asia Tenggara, Pantai Asia Tiur, Australia, dan negara yang terletak di Oceania. Beberapa negara yang ada di wilayah tersebut kemudian membentuk sebuah kerjasama ekonomi yang disebut dengan Asia Pasific Economic Cooperation atau APEC. Organisasi ini merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang ekonomi dan bersifat non politis. APEC didirikan pada tahun 1989. Organisasi ini memiliki tiga pengamat yaitu Pacific Island Forum (PIF) Secreatariat, ASEAN Secretariat, dan Pacific Economic Cooperation Council (PECC). Saat ini ada 21 negara yang menjadi bagian dari APEC yaitu Filipina yang merupakan tempat berdirinya para perusahaan game judi online, seperti perusahaan IDN Poker, lalu Indonesia, Thailand, Singapura, Papua Nugini, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Australia, Selandia Baru, Kanada, Cili, Cina, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Peru, Amerika Serikat, dan Meksiko. Setiap anggota APEC disebut dengan “Ekonomi”. Sehingga, mereka bergabung dengan memakai entitas ekonomi bukan negara.

APEC sebagai sebuah forum kerjasama ekonomi tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tujuan dari dibentuknya APEC adalah forum kerjasama ini harus bisa mendorong dan memberikan fasiltas bagi pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Sehingga, kesejahteraan ekonomi Asia Pasifik dapat meningkat. Dalam rangka mewujudkan tujuan utama tersebut, APEC telah menetapkan target yang disebut dengan “The Bogor Goals”. Target ini dibuat saat diadakannya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Bogor. KTT APEC ini dilaksanakan pada tahun 1994. Sebagai suatu organisasi kerjasama ekonomi yang ada di kawasan Asia Pasifik, APEC juga memiliki beberapa prinsip kerjasama yaitu Consensus, Voluntary and non-binding, Concerted unilateralism, dan differentiated time frame. Prinsip Consesnsus merupakan sebuah prinsip dimana setiap keputusan yang ada pada APEC harus disepakati dan dapat menghasilkan manfaat bagi 21 ekonomi anggota APEC. Sementara itu, prinsip Voluntary and non-binding mengandung arti bahwa setiap kesepakatan yang diambil dalam APEC harus diambil dalam keadaan sukarela. Hal ini berarti keputusan APEC tidak mengikat 21 Ekonomi Anggota. Mereka bisa memilih untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan keputusan APEC. Prinsip Conceted Unilateralism memiliki arti bahwa dalam melaksanan keputusan harus dilakukan sesuai dengan kemampuan tiap Ekonomi Anggota. Sementara itu, prinsip Differentiated Time Frame memiliki arti bahwa liberalisasi akan dilaksanakan oleh Ekonomi maju.

Forum kerjasama APEC memiliki tiga pilar yang digunakan untuk mencapai target Bogor Goals. Pilar yang pertama adalah perdagangan dan investasi yang lebih terbuka. Pilar pertama ini diterapkan dalam rangka untuk menghilangkan hambatan baik tairf maupun non-tarif bagi perkembangan perdagangan dan investasi. Selain itu, pilar ini dapat membuka pasar ekspor bagi produk yang dihasilkan oleh Indonesia. Pilar pertama ini juga diterapkan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar hidup ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, pilar yang kedua adalah fasilitas perdagangan dan investasi. Pilar ini berfokus pada pengurangan biaya transaksi, kemudahan administasi pelabuhan, peningkatan akses terhadap informasi perdagangan, dan penyelarasan kebijakan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya produksi yang dikeluarkan serta peningkatan dalam efisiensi ekonomi. Pilar yang ketiga adalah adanya kerjasama ekonomi dan teknik atau yang lebih sering disebut dengan ECOTECH. Pilar ketiga ini memungkinkan adanya kerjasama dalam bentuk pelatihan yang memungkinkan setiap Ekonomi anggota dapat mengembangkan potensi dan kapasitas ekonominya. Sehingga, setiap Ekonomi anggota dapat menghadapi berbagai isu dan tantangan yang ada pada bidang ekonomi.

Asia-Pacific Rainforest Summit, Pertemuan Kerjasama Kawasan Asia Pasifik dalam Bidang Lingkungan
Berita Bisnis Ekonomi Energi Forum

Asia-Pacific Rainforest Summit, Pertemuan Kerjasama Kawasan Asia Pasifik dalam Bidang Lingkungan

Asia-Pacific Rainforest Summit, Pertemuan Kerjasama Kawasan Asia Pasifik dalam Bidang Lingkungan – Kawasan Asia Pasifik merupakan salah satu kawasan di dunia yang memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas. Luas hutan hujan tropis yang ada di kawasan Asia Pasifik sebesar 74 juta hektar atau sekitar 18% dari luas hutan hujan yang ada di dunia. Selain itu, kawasan hutan hujan tropis yang ada di Asia Pasifik merupakan salah satu tempat konservasi flora dan fauna yang ada di dunia. Oleh karena itu, keberadaan hutan hujan tropis di kawasan Asia Pasifik harus dijaga. Akan tetapi, ada beberapa masalah yang dihadapi oleh negara di kawasan Asia Pasifik mengenai konservasi hutan hujan. Terjadi banyak degradasi hutan melalui berbagai cara seperti pembalakan liar, kebakaran hutan, pencurian flora dan fauna, dll. Selain itu, kebakaran hutan yang sering terjadi di hutan hujan tropis yang ada di Asia Pasifik juga menyebabkan banyaknya polusi udara. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerjasama antar negara yang ada di kawasan Asia Pasifik dalam menanggulangi degradasi hutan dan pencemaran udara.

Salah satu cara yang ditempuh adalah membentuk suatu forum kerjasam yang bergerak di bidang lingkungan terutama konservasi hutan. Forum kerjasama tersebut disebut dengan Asia – Pacific Rainforest Partnership (APRP) didasari pada hasil kesepakatan Paris Agreement dan REDD+. Kedua hasil kesepakatan tersebut mengemukakan bahwa setiap negara harus mampu mengurangi emisi dan pencemaran udara dari setiap aktivitas termasuk kebakaran hutan. Sebagai suatu forum kerjasama di bidang lingkungan, APRP mempunyai fokus beberapa hal. Salah satunya adalah penanggulangan degradasi hutan, pemberantasan praktek pembalakan liar, pencegahan dan mitigasi dari kebakaran hutan, serta penguatan ekonomi di antara negara-negara anggota APRP. Forum kerjasama ini juga rutin melaksanakan pertemuan setiap dua tahun sekali. Pertemuan tersebut dikenal dengan nama Asia-Pacific Rainforest Summit atau APRS.

Pertemuan pertama APRS diselenggarakan oleh pemerintah Australia pada tanggal 11 – 12 November 2014. Lokasi penyelenggaraan adalah kota Sydney. Pertemuan APRS pertama ini dihadiri oleh lebih dari 300 politisi dan ahli mengenai lingkungan. Acara ini juga dihadiri oleh penjabat senior dari berbagai negara seperti Cina, Jepang, Jerman, Kamboja, dan Indonesia. Selain itu, beberapa pimpinan lembaga internasional seperti International Union for Conservation of Nature, UNESCO, dan Centre for International Forestry Research and International Tropical Timber Organization. Beberapa topik diskusi dari pertemuan ini membawa beberapa fokus tujuan yang harus dilaksanakan yaitu Papua Nugini yang harus membuat sebuah moratorium terkait eksport pada tahun 2020 hingga 2030, Vietnam harus mengembalikan hutan dalam kondisi baik sejumlah 42% pada tahun 2015 dan 45% pada tahun 2020, laos juga harus mengembalikan sekitar 6.5 juta hektar dari hutan yang telah terdegradasi, serta Indonesia yang harus menjaga 63 juta hektar daerah sensitif.

Pertemuan kedua diselenggarakan pada tanggal 3 – 5 Agustus 2016 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Pertemuan ini dihadiri oleh 300 wakil dari berbagai negara serta sektor swasta. Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu, penguatan kerjasama di bidang konservasi hutan di kawasan Asia Pasifik, penguatan peran sektor swasta dalam penanganan degradasi hutan, serta penguatan dalam pencegahan perubahan iklim. Pertemuan APRS yang ketiga dilaksanakan di Yogyakarta, Indonesia pada tanggal 23 – 25 April 2018. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai wakil negara, sektor swasta, peneliti, dll. Pertemuan APRS yang ketiga ini membahas penguatan kerjasama dalam bidang konservasi hutan serta ekonomi.

Tujuan, Prinsip, dan Manfaat dari Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)
Berita Bisnis Ekonomi

Tujuan, Prinsip, dan Manfaat dari Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)

Tujuan, Prinsip, dan Manfaat dari Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) – Saat ini, untuk menjamin adanya keadaan ekonomi yang sesuai bagi setiap negara, terdapat beberapa forum kerjasama ekonomi yang dibentuk oleh beberapa negara terutama negara yang berada di satu kawasan yang sama. Hal inilah yang juga terjadi pada negara yang ada di kawasan Asia Pasifik. Beberapa negara membentuk suatu forum kerjasama di bidang ekonomi yang disebut dengan Asia Pasific Economic Cooperation atau APEC. Forum kerjasama ekonomi ini diprakarsai oleh Australia dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi ekonomi serta politik di tahun pembentukan. APEC didirikan pada tahun 1989 pada saat pertemuan ekonomi di Canberra Australia. Setiap negara yang bergabung dengan APEC disebut dengan Ekonomi anggota. Saat ini, APEC memiliki setidaknya 21 Ekonomi Anggota yaitu, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Chili, Peru, Selandia Baru, Australia, Papua Nugini, Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunie Darussalam, Thailand, dan Singapura.

Tujuan dari dibentuknya APEC adalah menciptakan perdagangan bebas tanpa hambatan bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, peningkatan kualitas perdagangan dan investasi yang dilakukan oleh negara di kawasan Asia Pasifik. Hal ini tercermin pada kesepakatan yang diambil pada tahun 1994 yang disebut dengan The Bogor Goals. Sementara itu, untuk mewujudkan tujuan utama dari APEC, forum kerjasama ini mempunyai beberapa prinsip yang harus dijalankan oleh anggotanya yaitu perdagangan dan investasi yang lebih terbuka, fasilitas perdagangan dan investasi, serta kerjasama Ekonomi dan Teknik yang disebut dengan ECOTECH. Perdagangan dan investasi yang lebih terbuka memungkinkan negara anggota APEC dapat melakukan perdagangan tanpa adanya hambatan baik tarif maupun nontarif. Selain itu, pertumbuhan ekonomi dan investasi serta kesejahteraan hidup masyarakat dari negara anggota APEC dapat meningkat. Sementara itu, fasilitas pedagangan dan investasi meliputi peningkatan akses informasi perdagangan, semakin mudahnya administrasi pada pelabuhan, pengurangan biaya transaksi serta penyesuaikan kebijakan antar negara anggota. Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan harga barang dan jasa karena biaya produksinya turun dan meningkatkan efisiensi ekonomi di negara anggota APEC. Sementara itu, prinsip ketiga dari APEC yaitu adanya kerjasama ECOTECH memungkinkan adanya pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dari anggota APEC. Semakin maju sumber daya manusia yang dimiliki, maka potensi pertumbuhan ekonomi juga semakin besar.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari adanya APEC baik untuk negara anggota APEC maupun kawasan Asia Pasifik. Manfaat APEC bagi anggotanya adalah meningkatkan kepercayaan dan hubungan diplomatis yang menguntungkan bagi sesama anggota APEC, meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia dari negara anggota melalui berbagai pelatihan serta kelompok kerja APEC, meningkatkan kesempatan pasar bebas bagi produk ekspor negara anggota, serta meningkatkan investasi yang masuk bagi negara anggota. Oleh karena itu, penting adanya untuk memastikan bahwa kinerja APEC berfokus pada kerjasama ekonomi yang tidak ditumpangi dengan isu isu lain seperti politik dan keamanan.

Tujuan, Prinsip, dan Manfaat dari Asia Pasific Economic Cooperation

Sementara itu, manfaat APEC bagi kawasan adalah menjaga stabilitas ekonomi bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Hal ini terlihat pada tahun 2013 dimana laju pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Pasifik lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, manfaat lain dari APEC bagi kawasan Asia Pasifik adalah terciptanya kondisi yang memungkinkan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas perdagangan di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, APEC juga memberikan fasilitas bagi perusahaan IDN Poker dan perusahaan dunia usaha lainnya melalui beberapa program yaitu APEC Business Travel Card (ABTC).

Mengenal Lebih Jauh Mengenai Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
Berita Bisnis Ekonomi Energi Forum

Mengenal Lebih Jauh Mengenai Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)

Mengenal Lebih Jauh Mengenai Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) – Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) merupakan salah satu forum kerjasama ekonomi yang melingkupi negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Negara yang menjadi anggota APEC disebut dengan Ekonomi. APEC telah didirikan sejak tahun 1989. Saat ini, APEC memiliki 21 Ekonomi anggota yang melingkupi negara di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, dan Filipina. Selain itu, ada negara di Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, Cina, Hongkong, dan Taipei. Sementara itu ada beberapa negara lain dari daerah lain seperti Australia, Kanada, Selandia Baru, Amerika Serikat, Meksiko, Peru, Papuan Nugini dan Cili. Tujuan utama dari APEC adalah peningkatan kerjasama ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Untuk itu, pada tahun 1994, diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Bogor yang membahas tentang target dari APEC. Target tersebut dikenal dengan nama “The Bogor Goals”.

Lantas, bagaimana mekanisme pertemuan yang ada di APEC. Secara umum, pertemuan anggota Ekonomi APEC dimulai dari pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan APEC dalam suatu pertemuan yang diberi nama APEC Ministerial Meeting atau AMM. Setelah itu, Pejabat Tinggi atau Senior Officials menindaklanjuti hasil kesepakatan yang dihasilkan oleh AMM dalam sebuah pertemuan yang diadakan setidaknya tiga kali dalam setahun. Hasil pertemuan dari para Pejabat Tinggi yang sering disebut dengann Senior Officials Meeting (SOM) ditindaklanjuti oleh Komite, Fora, Subfora, dan Working Groups. Sampai saat ini, ada kurang lebih 34 fora, subfora, dan working groups yang bekerja dan mengadakan pertemuan secara rutin. Hal ini disebabkan semakin meningkatnya beberapa isu mengenai perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasific. Setiap pemimpin dari masing-maisng Ekonomi anggota APEC juga mengikuti pertemuan setahun sekali yang diberi nama APEC Economic Leader’s Meeting (AELM). Semua pertemuan tersebut diupayakan dalam rangka mencapai tujuan utama dari APEC.

Sebagai salah satu Ekonomi di APEC, Indonesia juga turut berpartisipasi dalam setiap kegiatan APEC. Salah satunya adalah melalui beberapa lembaga yang menjadi focal point APEC di Indonesia. Secara umum, koordinator nasional Indonesia yang menjadi penanggung jawab APEC ada di bawah naungan Kementrian Luar Negeri. Selain itu, Indonesia juga berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan APEC termasuk dalam kegiatan fora dan subfora. Beberapa kementrian dan lembaga nasional yang terkat dalam bidang kerja fora dan subfora ikut dalam kerjasam tersebut. Misalnya, Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian yang terlibat dalam proyek kerja Economic Committee (EC). Sementara itu, Kementrian Perdagangan berpatisipasi dalam kegiatan yang diselanggarakan oleh Committee on Trade and Investment (CTI). Kementrian PPN / Bappenas juga berpastisipasi aktif pada SOM Steering Committe on Economic and Technical Cooperation (SCE).

Partisipasi Indonesia dalam APEC juga memberikan beberapa manfaat yang cukup besar bagi Indonesia. Salah satu manfaatnya adalah jumlah investasi yang meningkat setiap tahunnya. Selain itu, pasar ekonomi yang ada di kawasan Asia Pasifik dapat dijadikan sebagai salah satu pasar terbuka yang menjanjikan bagi produk ekspor Indonesia. Setiap tahunnya, terjadi kenaikan produk ekspor yang ada di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, keikutsertaan Indonesia dalam APEC juga dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas yang dimiliki Indonesia. Hal ini juga berlaku dengan peningkatan daya saing Indonesia. APEC juga digunakan untuk meningkatkan kerjasama dan saling percaya antara negara yang ada di wilayan Asia Pasifik.

Peran Indonesia dalam Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)
Berita Bisnis Ekonomi Energi Forum

Peran Indonesia dalam Asia Pasific Economic Cooperation (APEC)

Peran Indonesia dalam Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) – Saat ini, kerjasama antara berbagai negara tidak bisa dihindarkan. Demi memperkuat perkembangan ekonomi, ada banyak kerjasama yang dilakukan oleh beberapa negara. Salah satunya adalah kerjasama antar berbagai negara di kawasan yang sama. Bagi negara-negara yang ada di kawasan Asia Pasifik, mereka membentuk sebuah kerjasama yang disebut dengan Asia – Pacific Economic Cooperation atau yang lebih sering disebut dengan APEC. Forum kerjasam APEC berfokus pada penguatan bidang kerjasama ekonomi dan investasi. APEC didirikan pada tahun 1989. Negara yang terdaftar menjadi anggota APEC disebut dengan Ekonomi. Saat ini ada 21 Ekonomi yang terdaftar sebagai anggota APEC. 21 Ekonomi tersebut berasal dari beberapa wilayah seperti Asia Timur, Asia Tenggara, dan negara di Oceania. 21 Ekonomi tersebut adalah Jepang, Korea Selatan, Cina, Taipei, Hongkong, Indonesia, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Cili, Peru, Papua Nugini, Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Australia, dan Selandia Baru.

Sebagai salah satu anggota Ekonomi di APEC, Indonesia mempunyai peran yang cukup krusial. Salah satunya adalah peran Indonesia sebagai Ketua APEC pada tahun 1994. Indonesia dipercaya sebagai pemimpin APEC pada tahun tersebut karena pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu merupakan yang tertinggi dari berbagai negara yang ada di kawasan Asia Pasifik. Atas penunjukan sebagai pemimpin APEC tersebut, Indonesia banyak berpatisipasi dalam setiap kebijakan yang ada di dalam APEC. Sehingga, tujuan pembangunan nasional yang telah dirancang oleh Indonesia menjadi terlaksana dengan baik. Indonesia kembali menjabat sebagai pimpinan APEC pada tahun 2013. Perpindahan kepemimpinan terjadi pada tahun 2012 di KTT APEC yang diselenggarakan di Rusia.

Peran Indonesia lain dalam APEC adalah sebagai tuan rumah KTT APEC pada tahun 1994 dan 2013. Saat itu, Indonesia menjabat sebagai pimpinan APEC pada tahun-tahun tersebut. Pada tahun 1994, KTT APEC diselenggarakan di Bogor. Saat itu, Indonesia menjadi salah satu negara yang mencetuskan adanya target yang harus diraih oleh APEC. Target tersebut sering disebut dengan The Bogor Declaration dan The Bogor Goals. Kedua kesepakatan tersebut yang kemudian dijadikan arah kebijakan dari APEC yaitu menentang adanya suatu blok perdagangan yang sifatnya tertutup serta membuat sebuah sistem perdagangan yang bebas di kawasan Asia Pasifik. Hal ini dilakukan agar perkembangan perdagangan dan investasi di kawasan Asia Pasifik dapat tercapai tanpa adanya hambatan baik yang bersifat tarif maupun non tarif. Selain itu, adanya perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik juga berdampak positif terhadap barang ekspor dari suatu negara karena tersedianya pasar yang lebih luas. Sementara itu, pada tahun 2013, KTT APEC diselenggarakan oleh agen bola di Bali. Tema KTT APEC 2013 adalah Resilient Asia Pacific : The Global Engine Growth. Pada KTT APEC 2013 ini, kekuatan Indonesia pada forum internasional semakin diakui.

Indonesia juga turut berperan dalam pembentukan Economic and Technical Cooperation (ECOTECH). Badan ini merupakan salah satu pelaksanaan dari pilar utama dari pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh APEC. ECOTECH berupaya untuk mengurangi kesenjangan atau perbedaan kekuatan ekonomi yang ada di negara-negara APEC. ECOTECH melaksanakan fungsinya dengan mempercepat pembangunan sumber daya manusia yang ada di negara-negara APEC. Selain itu, ECOTECH juga berupaya agar negara-negara berkembang yang ada di kawasan Asia – Pasifik dapat berubah menjadi negara maju. Saat ini, beberapa kementrian Indonesia berpartisipasi di dalam beberapa badan kerja yang dibentuk oleh APEC seperti EC, STI, dan SCE.

Kerjasama Kawasan Asia Pasifik di Bidang Lingkungan – Asia-Pacific Rainforest Partnership
Berita Energi

Kerjasama Kawasan Asia Pasifik di Bidang Lingkungan – Asia-Pacific Rainforest Partnership

Kerjasama Kawasan Asia Pasifik di Bidang Lingkungan – Asia-Pacific Rainforest Partnership – Saat ini, dunia tengah menghadapi tingkat polusi udara yang sangat tinggi. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab polusi udara salah satunya adalah kebakaran hutan. Di Indonesia, kebakaran hutan hampir terjadi setiap tahunnya. Ada banyak penyebab kebakaran hutan baik faktor alam maupun disengaja oleh manusia. Oleh karena itu, perlu ada pengawasan khusus sehingga kebakaran hutan dapat dicegah. Di sisi lain, kawasan Asia Pasifik merupakan salah satu kawasan di dunia yang memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas. Hutan hujan tropis di kawasan Asia Pasifik mempunyai luas sekitar 740 juta hektar. Luas ini menjadikan hutan hujan tropis di Asia Pasifik merupakan penyumbang sekitar 18% hutan hujan di dunia. Oleh karena itu, hutan hujan tropis yang ada di kawasan Asia Pasifik merupakan salah satu sumber paru-paru dunia. Sehingga, keberadaanya harus selalu dijaga.

Untuk dapat melindungi hutan hujan tropis yang ada di kawasan Asia Pasifik serta menanggulangi pencemaran dan polusi udara yang semakin besar, dibentuklah suatu forum kerjasama di bidang lingkungan di kawasan Asia Pasifik. Forum kerjasama bidang lingkungan di kawasan Asia Pasifik ini disebut dengan Asia – Pacific Rainforest Partnership (APRP). Forum kerjasama di bidang lingkungan ini didasari pada hasil kesepakatan yang termuat dari Paris Agreement dan REDD+. Hasil kesepakatan dari dua pertemuan tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi dan polusi udara dari pembakaran hutan.

Ada beberapa poin yang menjadi fokus dari APRP ini seperti merestorasi hutan yang telah terdegradasi dan melindungi hutan yang mempunyai nilai konservasi yang tinggi. Banyak hutan yang ada di kawasan Asia Tenggara mengalami degradasi. Hal ini disebabkan karena adanya pembukaan lahan melalui penebangan liar ataupun pembakaran. Sementara itu, di sisi lain, hutan yang ada di kawasan Asia Pasifik bukan hanya sebagai sumber paru-paru dunia akan tetapi juga sebagai sumber konservasi bagi flora dan fauna. APRP juga berfokus pada pemberian informasi terkait kebijakan politik nasional yang menangani degradasi dari hutan hujan tropis dan memberi dukungan pada perkembangan ekonomi negara bersangkutan. Selain itu, APRP juga berfokus pada peningkatan ilmu pengetahuan terkait konservasi, biodiversity, dan kelangkaan flora serta fauna yang ada di hutan hujan tropis tersebut. APRP juga mempunyai fokus pada peningkatan kolaborasi antara negara-negara yang ada di kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan peningkatan pengawasan hutan hujan tropis terkait pembalakan liar dan pembakaran hutan. APRP juga membantu negara anggota untuk dapat meningkatkan sistem ketahanan nasional dan sistem monitoring agar dapat mengimplementasikan hasil dari REDD+.

APRP telah mengadakan beberapa pertemuan rutin sejak tahun 2014. Pertemuan pertama ini dilakukan pada tahun 2014 yang bertempat di Australia. Forum pertemuan APRP dinamakan sebagai Asia – Pasific Rainforest Summit atau APRS. Pemerintah Australia merupakan tuan rumah pertama dari ASPS. Setelah itu, pada tahun 2016 tepatnya bulan Agustus, APRS yang kedua resmi diadakan di Brunie Darussalam. Pada pertemuan kedua ini, topik yang dibahas lebih mengarah pada bagaimana peningkatan konservasi hutan, perubahan iklim, dan implementasi dari Paris Agreement pada kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, pertemuan APRS yang ketiga dilaksanakan di Yogyakarta oleh Pemerintah Indonesia yang bekerjasama oleh Pemerintah Australia. Fokus pembicaan APRS yang ketiga adalah bagaimana cara melindungi hutan hujan tropis dan juga mendukung perkembangan ekonomi.